edom.web.id

Pengalaman banjir

Rumah kami di Green Ville, Jakarta Barat.

Pada malam pergantian hari Minggu (8 Februari 2015) ke Senin, hujan deras semalaman. Jalan depan rumah terendam. Taman jadi rawa.

Senin siang tidak hujan, tetapi air malah semakin naik. Langit awan semua. Listrik padam. Telepon mati. Air PAM mati. Sinyal telepon genggam melemah. Anjing mulai stres. Mobil sudah tidak bisa lewat.

Ada tukang roti Cendana Bakery menggenjot sepeda berjualan roti. Entah dari mana datangnya—baru kali ini saya dengar merek itu—tetapi kami beli saja dua bungkus roti tawar karena persediaan makanan kami menipis. Semangat usaha tukang roti tersebut patut dicontoh.

Senin malam menjadi penantian panjang penuh ketidakpastian. Dalam ketemaraman cahaya lilin, kami berharap air surut dan langit kembali cerah. Namun, langit menolak bekerja sama. Pada malam pergantian hari Senin ke Selasa, hujan lagi semalaman.

Kami yakin air akan masuk rumah. Kami jalankan prosedur operasi standar menyambut banjir. Dalam 30 menit, kami persiapkan isi rumah kami untuk menghadapi air sampai 30 cm. Ranjang kecil diangkat dan disangga dengan bangku. Setiap laci terbawah setiap lemari dikeluarkan ke atas lemari tersebut. Hanya sebuah piano akustik tegak Kawai KU-2 saja yang tidak bisa kami selamatkan karena kami akan cedera pinggang seminggu kalau kami paksakan diri mengangkatnya.

Kami sudah biasa kena banjir jadi kami punya perabot tahan banjir. Kami punya ranjang jati (2 m x 2 m) yang sengaja dibuat tinggi untuk mengalasi barang-barang saat banjir. Lemari kami berbahan tahan air seperti jati, plastik, atau logam berlapis cat.

Selasa pagi air masuk rumah. Bapak menerobos banjir dingin mengungsikan anjing ke tetangga yang sayang anjing dan berumah lebih tinggi. Tetangga ini salah satu tuan anjing kami. Anjing kami punya dua tuan.

Makanan sisa sudah basi. Air minum hampir habis. Tersisa roti tawar dan selai kacang.

Di pekarangan rumah, ikan kecil berenang dekat kaki saya. Panjangnya sekitar 1 cm. Ikan ini tembus pandang dan hidup dalam air comberan. Saya rasa kita bisa menemukan spesies baru dalam banjir ini.

Satu hal yang hanya bisa dilakukan saat banjir ialah kencing seenaknya dalam rumah—toh semua sudah kotor! Jarang-jarang bisa kencing di ruang makan!

Selasa siang kami mengungsi. Air dalam rumah 20 cm. Sebetis. Kami apungkan baskom-baskom plastik untuk membawa tas-tas berisi pakaian, sikat gigi, suplemen, telepon genggam, dan lain-lain.

Kami jalan menerobos banjir setinggi perut saya selama 1 jam sejauh 1 km. Di tengah perjalanan banjir tertinggi sampai dada saya. Dalam perjalanan, kami lihat banyak hal yang hanya terjadi saat banjir. Sampah mengapung. Anak-anak bermain banjir—entah dari mana mereka datang dan siapa orang tua mereka. Pasangan suami istri paruh baya memanjat gerobak sampah beralas lembaran kayu. Rakit ‘mewah’—karet ban, jeriken, dan sofa—didorong 4 orang dengan tarif jauh-dekat tidak kurang daripada Rp 50.000. Kami tidak mau naik rakit seperti itu karena rakit macam itu mudah terbalik.

Kami dijemput di dekat Pizza Hut Taman Ratu.

Kami mengungsi ke rumah saudara Ibu di daerah Duri Kepa. Rumah ini lebih bagus daripada rumah kami tetapi saya ternyata susah kerja, tidur, dan buang air besar selain di tempat biasa.

Di rumah ini ada Oma (seekor anjing betina Labrador Retriever hitam yang sangat ceria berumur 7 tahun) dan Abby (seekor anjing betina Golden Retriever cokelat berumur 3 tahun). Mereka suka bermain. Mereka ramah ke orang pada umumnya. Mereka gendut dan napas mereka pendek karena tidak ada yang membawa mereka jalan-jalan jadi sering kali mereka hanya diam tidur-tiduran di rumah.

Hal yang terjadi selama mengungsi tidak jelas. Sebagian besar kerjaan kami hanya makan, tidur, buang air, dan bengong. Saya berkhayal jadi gubernur Jakarta menerapkan pajak nilai tanah (land value tax) dan melihat kota ini menyelesaikan sendiri masalahnya.

Selama seminggu mengungsi itu saya pakai Telkomsel Flash untuk sambungan ke Internet. Sambungannya sih biasa aja, tapi Rp 60.000 untuk 2 GB sepertinya pemerasan. Bedebahnya Telkomsel ini ialah dia sudah makan uang saya tetapi dia masih coba-coba menyisipkan iklan. Tamak sekali.

Jumat pagi listrik nyala. Bapak dengan tukang dan pembantu ke rumah bersih-bersih. Tukang menguras bak penampungan air yang kemasukan air comberan. Pembantu menyemprot kotoran banjir dalam rumah dan membersihkan lemari.

Kami baru bisa kembali ke rumah pada hari Sabtu (14 Februari 2015) setelah 4 malam mengungsi.