edom.web.id

5 hal yang bikin naik darah saat menyetir mobil di Jakarta

Macet

Ini sudah keniscayaan. Hakikat. Ciri khas budaya setempat. Gara-gara sistem. Lama-lama juga biasa. Tahu-tahu sudah tua.

Sepeda motor

Saban kali kita mau belok kiri, sepertinya selalu ada sepeda motor dari belakang menyalip dari kiri pula, padahal lampu belok kita sudah ambil kiri dan nyalakan lampu belok dari jauh. Klasik.

Hujan. Para pengemudi motor berteduh di bawah jembatan. Satu lajur jadi tidak bisa dipakai. Hasilnya macet.

Lajur cuma tiga. Pedagang kaki lima mau lajur sendiri. Pejalan kaki mau lajur sendiri. Pengendara sepeda mau lajur sendiri. Pengemudi motor mau lajur sendiri. Bus mau lajur sendiri. Mobil harus bisa terbang.

Angkot ngetem

Berhenti seenaknya di jalan sempit. Lama pula. Terkadang di mulut gang. Mobil mau keluar tidak bisa, mau masuk tidak bisa. Sebagian salah sistem. Persetan orang lain mau lewat.

Tentu saja sopir angkot berkelakuan begitu. Itu konsekuensi rancangan insentifnya (sisa setelah setoran). Lagi-lagi gara-gara sistem.

Parkir di jalan raya

Ini juga bikin macet, tetapi tidak ada pilihan. Mobilnya mau ditaruh di mana lagi? Mau buka usaha di mana lagi? Selain itu, mahalnya ongkos parkir sudah menyaingi ongkos bensin.

Mobil yang parkir di pinggir jalan raya itu ibarat plak yang menempel di dinding pembuluh darah. Gerombolan motor yang menerobos trotoar itu ibarat darah yang menyembur keluar dari pembuluh darah yang pecah.

Sebenarnya penyelesaiannya mudah: pajak nilai tanah (land value tax), tetapi sepertinya tidak ada yang mau repot mengubah yang sudah ada.

Betul malah disalahin

Semua orang tahu mobil Anda lagi diam saat sebuah sepeda motor tiba-tiba menabrak mobil Anda. Malah si pengendara motor yang marah. Minta ganti rugi pula. Anda berusaha tetap tenang sambil membayangkan seandainya jalanan sepi, akan Anda tabrak orang ini, pastikan dia mati, ambil dompetnya, lindas bangkainya, lalu kabur dengan ceria. Kemungkinan sebentar lagi Anda akan mengonsumsi permainan bertema kekerasan.

Di jalanan Jakarta, kalau Anda lebih besar, pokoknya Anda salah. Semua orang akan berusaha memeras Anda karena menurut agama jalanan Jakarta, kaya itu dosa.

Meski terdengar berat, halangan-halangan ini masih gagal menyurutkan niat beli mobil beberapa orang. Memang ada kalanya mobil menjadi sebuah kebutuhan.