edom.web.id

Kekacauan parkir di Jakarta

Di Wisma 77 di Slipi Kemanggisan, karena tidak mau bayar dua kali harga biasa, setiap parkir teman saya butuh naik sedikitnya 7 lantai (menyetir menanjak sejauh 1 km di gedung parkir).

Di Grand Slipi Tower di Slipi Petamburan, parkirnya berantakan: orang yang mau mengeluarkan mobilnya mendorong mobil teman saya sampai mobil teman saya penyok membentur tembok; kemudian pelakunya kabur.

Di Tanjung Duren, orang parkir liar di badan jalan dengan bantuan tukang parkir liar. Ini bikin macet dan buang waktu semua orang lain yang mau lewat sekitar 30 menit per orang. Hal yang sama terjadi di Green Ville. Perumahan ini berubah jadi tempat makan. Yang untung dari kemacetan ini hanya pengusaha yang punya tempat makan. Orang yang mau lewat rugi besar. Bukannya pemerintah melarang lingkungan perumahan dijadikan tempat usaha?

Parkir di badan jalan melanggar hak pengguna jalan. Orang yang parkir dan pengusaha yang dapat untung dari orang parkir itu membebankan biaya parkir mereka ke pengguna jalan yang mau lewat. Ini negative externality, sama seperti pabrik membebankan biaya polusi mereka ke semua orang lain, sama seperti orang buang sampah ke sungai.

Kesemrawutan ini bisa diselesaikan secara mudah dengan pajak nilai tanah (land value tax), tetapi itu di luar ruang lingkup tulisan ini.

Kekacauan parkir ini hanya satu dari banyak masalah lalu lintas lain di Jakarta yang bikin orang malas naik mobil.